ATLANTA — Ternyata, cara membentuk skuad yang mampu dua kali menembus final Piala Dunia itu cukup sederhana. Mulailah dengan basis penggemar yang kesetiaannya terhadap tim bahkan membuat para pendeta dan pemuka agama merasa iri. Bentuklah skuad yang berisi pemain-pemain garang layaknya *wolverine*—siap menerjang dan menjatuhkan siapa pun yang mengenakan seragam lawan ke atas lapangan dengan keras. Tambahkan seorang pelatih yang dengan tenang meningkatkan tekanan—ibarat memanaskan air dalam wadah tempat Anda duduk—secara perlahan hingga Anda bahkan tidak sadar air itu sudah mendidih sampai semuanya terlambat. Dan sempurnakan semuanya dengan sosok yang bagaikan dewa dalam wujud manusia: seorang jenius yang mampu membaca "papan catur" lapangan sepak bola lima langkah lebih maju dibandingkan orang lain.
Mudah, bukan? Itulah peta jalan bagi USMNT: jadilah seperti Argentina.
Tentu saja, tidak ada yang bisa benar-benar meniru Argentina. Itulah keistimewaan *La Albiceleste*. Mereka unik dan tiada duanya—sebuah kekuatan yang berbeda dari tim mana pun di Piala Dunia tahun ini, bahkan mungkin dalam sepanjang sejarah Piala Dunia. Mereka memang juara bertahan, namun mereka telah menemukan jalan baru yang tak lazim menuju kemenangan di turnamen tahun ini.
Argentina mencetak dua gol dalam kurun waktu kurang dari tujuh menit—saat waktu normal tersisa kurang dari 10 menit—untuk mengalahkan Inggris dengan skor 2-1 pada hari Rabu. Pencapaian itu sendiri sudah sangat mengesankan... namun ini adalah kali keempat berturut-turut *La Albiceleste* berhasil mematahkan semangat lawan di saat-saat terakhir pertandingan.
Dalam keempat laga fase gugur tahun ini—melawan Tanjung Verde, Mesir, Swiss, dan kini Inggris—Argentina menang tanpa sempat memimpin saat waktu pertandingan 90 menit berakhir. Mengatakan "mereka menemukan cara untuk menang" adalah ungkapan yang terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang terus-menerus dilakukan Argentina. Argentina menang justru ketika lawan sudah mulai bermimpi melaju ke babak berikutnya, mulai memesan tiket pesawat, bahkan mulai memberi nama anak-anak mereka dengan nama para pahlawan yang nasibnya akan segera berakhir tragis itu.
Argentina adalah sosok monster yang mengintai di bawah tempat tidur, di dalam lemari, atau di kursi belakang mobil Anda saat larut malam. Argentina bangkit kembali bahkan setelah layar kredit penutup film bergulir. Argentina akan angkat bicara dan menghentikan upacara pernikahan di saat hadirin lainnya memilih untuk diam. Argentina benar-benar tak bisa ditaklukkan.
Ada pepatah lama yang mengatakan jangan pernah bergulat melawan babi, karena babi itu akan menyeret Anda ke dalam lumpur dan mengalahkan Anda dengan pengalamannya. Itulah tepatnya yang dilakukan Argentina terhadap Inggris; mereka mengacaukan permainan *The Three Lions* lewat serangkaian pelanggaran—total 12 kali—di babak pertama, lalu menjadikan kiper Jordan Pickford sebagai sasaran tembak di babak kedua. Pukullah sesuatu dengan palu godam berkali-kali, maka benda itu pasti akan hancur.
Ya, Inggris terlalu dini menerapkan strategi bertahan total (*park the bus*). Gol Anthony Gordon pada menit ke-55 itu sejak awal tidak mungkin cukup untuk mempertahankan keunggulan, apalagi saat menghadapi serangan yang dipimpin oleh Leo Messi. Namun, Argentina jelas memiliki sesuatu yang tak kasatmata namun tidak dimiliki Inggris: tekad untuk menang, semangat juang yang terus menyala jauh setelah tim lain mungkin sudah menyerah. (Lihat: Prancis pada hari Selasa.) Argentina yakin mereka tak terbendung karena alasan sederhana: sejauh ini, belum ada yang mampu menghentikan mereka.
"Kami baru saja melewati tiga pertandingan berat yang penuh situasi sulit, namun tim ini selalu berhasil mengerahkan segala kemampuan terbaiknya," ujar Lautaro Martínez—pencetak gol kemenangan—dalam bahasa Spanyol usai pertandingan. "Hari ini, sekali lagi, meski sempat tertinggal, kami berhasil membalikkan keadaan di masa *injury time*. Hal itulah yang benar-benar mencerminkan karakter skuad ini: tim yang tidak pernah cepat puas dan selalu menginginkan lebih. Pada akhirnya, itulah yang terpenting."
Sebenarnya, Argentina mungkin sudah memenangkan pertandingan melawan Inggris itu jauh sebelum laga dimulai. *La Albiceleste* mungkin sudah mengamankan kemenangan bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan, saat para pendukung mereka yang memadati stadion menenggelamkan lagu "God Save the King" dan "Sweet Caroline" dengan sorak-sorai serta siulan. Puluhan ribu penggemar Argentina yang mengenakan jersei Messi itu ibarat pemain ke-12, ke-13, dan ke-14 bagi skuad tersebut; sebuah dinding yang terbentuk dari suara, cinta, dan kesetiaan yang mustahil ditembus—baik dengan melompatinya, merangkak di bawahnya, memutarinya, maupun menerobosnya.
Jadi, sebuah peringatan bagi Spanyol dan seluruh pendukung La Roja. Kalian mungkin bisa tampil lebih unggul daripada Argentina sepanjang 90 atau 120 menit pertandingan hari Minggu nanti di New Jersey. Kalian bahkan mungkin bisa mencetak lebih banyak gol daripada Argentina, dan hal itu bisa membuat kalian merasa seolah-olah sudah benar-benar menjuarai Piala Dunia. Banyak pihak lain yang pernah melakukan kesalahan serupa.
Sebab, justru saat kalian tidak menduganya—saat kalian sudah merasa nyaman dengan bayangan kemenangan, saat gemuruh sorak-sorai mulai memudar, bahkan saat kalian sudah kembali ke tanah air dengan trofi dalam pelukan—itulah saat Argentina akan melancarkan serangan. Begitulah cara Argentina bermain, dan hingga kini belum ada seorang pun yang berhasil menemukan cara untuk menghentikannya.
Leave a Reply