Apa perbedaan antara Diet Coke dan Coke Zero?

Rasa manis yang nikmat dari minuman bersoda.

Kebanyakan dari kita tahu betapa menyegarkan dan memuaskannya rasa Coca-Cola. Baik saat disajikan dengan es di hari musim panas yang terik, disantap bersama burger dan kentang goreng saat makan siang, maupun dinikmati sembari menonton film blockbuster ditemani seember popcorn mentega, minuman ini selalu terasa pas dan memuaskan.

Namun, tidak ada orang yang meminum sekaleng cola dengan anggapan bahwa minuman itu sebenarnya menyehatkan bagi tubuh. Di antara berbagai varian Coca-Cola—seperti Classic, Diet, Zero Sugar, serta varian rasa lain seperti Cherry Coke dan Vanilla Coke—ada satu varian yang mungkin lebih baik bagi kesehatan Anda dibandingkan yang lainnya.

Berikut adalah perbedaan dan persamaan di antara varian-varian Coca-Cola yang paling populer, serta informasi mengenai varian mana yang kemungkinan besar paling tidak mengganggu tujuan kesehatan Anda dalam jangka panjang.

Apa itu Coca-Cola? Apakah ada perbedaan antara Coca-Cola dan Coke?

Coca-Cola lebih dari sekadar minuman ringan; perusahaan ini merupakan sebuah imperium merek global. Didirikan pada tahun 1886 di Atlanta, perusahaan ini telah berkembang menjadi korporasi minuman terbesar di dunia dengan lebih dari 200 merek ikonik. Selain produk cola andalannya, Coca-Cola memiliki berbagai minuman ternama seperti Sprite, Fanta, Powerade, Minute Maid, dan bahkan merek air minum dalam kemasan, Dasani.

Produknya yang paling ikonik, Coca-Cola Classic (yang biasanya hanya disebut Coke), adalah minuman ringan berkarbonasi yang bahan utamanya meliputi air berkarbonasi, sirop jagung tinggi fruktosa (atau gula tebu di beberapa negara), pewarna karamel, asam fosfat, kafein, dan “perisa alami” yang tidak dirinci secara spesifik menurut label nutrisinya. Terkadang, sirop rasa ceri atau vanila juga ditambahkan ke dalam formulasi untuk varian Cherry Coke dan Vanilla Coke.

Berkat rasa manis, cita rasa khas, kandungan kafein, dan sensasi sodanya, Classic Coke telah menjadi salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Namun, kandungan gulanya yang tinggi juga menjadikan minuman ini—serta minuman manis lainnya—sebagai sasaran kritik para ahli kesehatan.

“Soda biasa merupakan salah satu sumber utama gula tambahan dalam pola makan masyarakat Amerika,” ujar Caroline Susie, seorang ahli gizi terdaftar sekaligus juru bicara nasional untuk Academy of Nutrition and Dietetics, kepada USA TODAY sebelumnya. Faktanya, satu botol Classic Coke ukuran 20 ons (sekitar 590 ml) mengandung gula tambahan sebanyak 65 gram—jumlah yang sangat besar, yakni sekitar 130% dari batas asupan harian yang disarankan.

Menanggapi kekhawatiran yang terus meningkat mengenai asupan gula, Coca-Cola meluncurkan Diet Coke pada tahun 1982 dan Coke Zero pada tahun 2005. (Minuman yang sama kemudian berganti nama menjadi Coca-Cola Zero Sugar pada tahun 2017, meskipun masih sering disebut sebagai Coke Zero). Kedua pilihan ini bebas gula dan menggunakan pemanis buatan sebagai gantinya. Namun, formulasi keduanya berbeda: Diet Coke hanya menggunakan aspartam dan memiliki cita rasa khas tersendiri, sedangkan Coke Zero memadukan aspartam dengan asesulfam kalium—dan terkadang stevia—sehingga menghasilkan profil rasa yang menurut sebagian konsumen lebih mendekati Coca-Cola Classic; hal ini juga pernah disampaikan oleh Kristina Cooke, seorang ahli gizi berlisensi yang memiliki spesialisasi dalam penanganan dan pencegahan diabetes, kepada USA TODAY.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *