Nama publikasi yang dipilih Michael Jordan untuk sesi wawancara pada tahun 2005 mencerminkan selera pribadinya dengan jelas: "Cigar Aficionado."
Cerutu adalah sesuatu yang digemari oleh ikon bola basket tersebut—dan mungkin masih digemarinya hingga kini. Namun, soal narkoba, ceritanya berbeda.
Jordan sendiri sama sekali tidak ingin berurusan dengan narkoba, dan menurut pengakuannya, ia juga tidak nyaman melihat pemain lain menggunakannya, bahkan bertahun-tahun setelah ia pensiun dari NBA. Hal ini terlihat jelas ketika percakapannya dengan Marvin R. Shanken beralih membahas topik narkoba dalam dunia olahraga profesional.
MJ ingin isu penggunaan ganja lebih diperhatikan
Shanken mengangkat topik ini karena, menurutnya, media telah menjadikan narkoba sebagai "isu besar" di NBA. Ia ingin mengetahui pandangan Jordan mengenai hal itu. Apakah ini sesuatu yang baru, atau memang sudah ada sejak dulu? Apakah kondisinya sebenarnya lebih parah dibandingkan era 80-an dan 90-an, atau hanya sekadar mendapat sorotan lebih besar?
Jordan mengatakan bahwa narkoba sudah ada sejak ia masih ingat betul, bahkan sejak masa SMA dan kuliahnya. Ia tidak memandangnya hanya sebagai masalah bola basket semata. Bagi peraih gelar MVP lima kali itu, persoalannya melampaui batas lapangan. Ini menyangkut pola asuh dan nilai-nilai yang dipegang para pemain sebelum mereka mencapai panggung besar.
Meski demikian, saat Jordan berbicara mengenai penggunaan ganja di kalangan pemain pada masa itu, nada bicaranya menjadi lebih serius.
"Menurut saya, penggunaan ganja masih marak di NBA," ujar Jordan.
Dia jelas tidak menyukai hal itu. Dan jika sempat ada keraguan, legenda Chicago Bulls tersebut mempertegas sikapnya dengan mengatakan bahwa itu adalah masalah yang menurutnya "perlu mendapat perhatian lebih."
Saat Jordan duduk berbincang dengan Shanken, NBA telah melewati masa yang kerap dijuluki sebagai "sirkus kokain". Peristiwa itu terjadi pada akhir tahun 70-an dan awal 80-an. Kala itu, beredar rumor bahwa seluruh anggota tim terlibat dalam penggunaan narkoba.
David Stern menjadikan upaya pembenahan masalah tersebut sebagai prioritas begitu ia mengambil alih kepemimpinan pada Februari 1984. Ia memperketat kebijakan liga terkait narkoba. Ia bahkan menjatuhkan sanksi skorsing terhadap Michael Ray Richardson, pemain yang pernah empat kali terpilih masuk tim All-Star. Stern bertekad membersihkan liga tersebut. Upayanya membuahkan hasil, setidaknya sampai taraf tertentu.
Situasi memang membaik. Namun, masalah itu tidak pernah benar-benar hilang karena memang terlalu sulit untuk dihapuskan. Jordan pun sangat menyadari hal itu. Ia mengakui kinerja Stern yang dinilainya telah "melakukan pekerjaan hebat untuk menghilangkan semua masalah tersebut." Meski demikian, Jordan juga tahu bahwa persoalan ini tidak sesederhana itu, seraya menyatakan, "Sangat sulit untuk menghilangkannya."
Lebih dari dua dekade setelah wawancara Jordan, penggunaan ganja masih belum "dihilangkan." Bahkan, situasinya justru bergerak ke arah sebaliknya. Selama bertahun-tahun, pihak pengelola liga cenderung menutup mata terhadap masalah ini. Lalu tibalah tahun 2020 yang membawa perubahan ke arah sikap yang lebih menerima.
Hal itu terjadi hampir secara kebetulan. Musim kompetisi sempat dihentikan akibat COVID-19. Tim-tim peserta harus menjalani karantina di dalam "gelembung" (bubble) Disney. Pihak liga, di bawah pimpinan komisioner Adam Silver, menghentikan tes ganja. Keputusan ini sama sekali tidak berkaitan dengan reformasi kebijakan; berkurangnya aktivitas keluar-masuk area karantina semata-mata berarti risiko paparan yang lebih rendah.
Pada akhirnya, tes ganja tersebut tidak pernah diberlakukan kembali.
Padahal, Jordan sebenarnya menginginkan agar masalah ini mendapat perhatian lebih besar. Dalam artian tertentu, ia tidak mendapatkan apa yang diharapkannya. Itu bukanlah hasil akhir yang biasa dialami oleh sosok berjuluk "His Airness" tersebut, jauh berbeda dengan pengalamannya saat mendominasi lapangan basket NBA di masa jayanya.
Leave a Reply