Sensasi terbakar itu bermula di dekat bagian atas lengan kiri Gregory Maassen. Rasa itu dengan cepat menjalar ke punggung bagian atas dan dadanya, dan dalam waktu satu bulan, seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar—mulai dari telinga hingga ke kakinya.
Maassen, yang saat itu berusia 51 tahun, menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur namun kesulitan untuk bisa tidur. Ia memeriksakan diri ke dokter dan menjalani berbagai tes, termasuk pengambilan sampel darah dan endoskopi, namun tak satu pun yang dapat memastikan kondisi medisnya. Menurut Maassen, salah seorang dokter menduga bahwa rasa sakit tersebut disebabkan oleh gangguan jiwa.
Kondisinya kian memburuk selama beberapa bulan. Ia sempat khawatir akan meninggal dunia.
Lebih dari setahun setelah gejala-gejalanya muncul, Maassen hampir kehilangan harapan untuk mengetahui penyebab pasti kondisi medisnya hingga akhirnya ia bertemu dengan Ahmet Hoke, seorang ahli saraf di Baltimore.
Setelah mengamati sekilas gejala-gejala yang dialami Maassen, Hoke berhasil mendiagnosis kondisinya dengan tepat. Rencana pemulihan yang diberikan Hoke pada bulan-bulan berikutnya mengubah hidup Maassen dan secara tak terduga membawanya pada sebuah terapi yang kemudian menjadi kegemarannya: bersepeda.
Setelah mempertimbangkan gejala-gejala yang muncul secara mendadak dan parah, Hoke mendiagnosis Maassen menderita small-fiber sensory neuropathy (neuropati sensorik serabut kecil), yaitu jenis neuropati perifer langka yang merusak serabut saraf berukuran kecil. Hoke menjelaskan bahwa karena tes konduksi saraf umumnya hanya memeriksa serabut saraf berukuran besar, kondisi seperti yang dialami Maassen terkadang luput dari diagnosis. Meskipun risiko neuropati cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, Hoke menyebutkan bahwa hanya sekitar 0,1 persen kasus neuropati yang serupa dengan kondisi Maassen.
Biopsi kulit pada bulan April 2019 mengonfirmasi kondisi Maassen. Banyak faktor yang dapat menyebabkan neuropati, termasuk diabetes, kemoterapi, dan gangguan autoimun, namun Maassen meyakini bahwa kondisinya itu disebabkan oleh gigitan kutu.
Hoke, yang bekerja untuk Johns Hopkins Medicine, meresepkan obat untuk mengatasi rasa sakit yang diderita Maassen, termasuk obat golongan gabapentinoid untuk nyeri saraf dan antidepresan yang juga dapat membantu meredakan nyeri saraf. Maassen merasa lega, namun ia meragukan rencana pengobatan Hoke yang lain: olahraga.
"Apa Anda sudah gila?" demikian pikir Maassen saat itu. Ia merasa begitu lelah dan kesakitan hingga menjalani aktivitas sehari-hari pun terasa sulit. Ia bahkan sulit membayangkan dirinya berolahraga.
Menurut Hoke, olahraga dapat meregenerasi serabut saraf dan memperbaiki kondisi nyeri kronis pada sebagian pasien neuropati. Maassen, yang telah berhenti dari pekerjaannya sebagai kontraktor untuk U.S. Agency for International Development (USAID) akibat penyakitnya, merasa tidak memiliki harapan lain.
Ia sempat mencoba berenang dan mendaki, namun merasa aktivitas tersebut terlalu berat. Ia kemudian bergabung dengan sebuah komunitas bersepeda di dekat rumahnya di wilayah Northwest Washington yang sebagian besar anggotanya berusia 60-an dan 70-an tahun, dengan harapan kecepatan mereka akan lebih santai. Namun, Maassen tetap tidak mampu mengimbangi kecepatan mereka.
Maassen mengendarai sepeda listriknya dengan menarik kereta gandengan seberat hampir 36 kilogram (80 pon) yang memuat tenda, perlengkapan berkemah, rompi keselamatan berwarna oranye, drone, kamera, sikat gigi elektrik, dan beberapa stoples selai kacang. Ia bersepeda menembus salju, hujan deras, dan angin kencang. Ia melintasi gurun, ladang jagung, dan pegunungan. Setiap harinya, ia mencari tempat untuk mengisi daya baterai sepedanya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4.685 mil—rata-rata 65 mil per hari—ia berhasil menggalang dana lebih dari $179.000 dari orang-orang yang ditemuinya di sepanjang rute, sesama pasien neuropati, ahli saraf, keluarga, dan teman-teman, ujarnya.
Pada bulan Maret tahun ini, Maassen memulai perjalanan bersepeda lintas negara lainnya yang menempuh jarak sekitar 7.250 mil. Ia berangkat dari West Palm Beach, Florida, dan diperkirakan akan tiba di tujuan akhir, Los Angeles, pada Selasa pagi. Ia telah menggalang dana lebih dari $31.500 untuk pusat neuropati Johns Hopkins Medicine.
"Selama tahun 2022 maupun tahun ini, tidak pernah sekalipun saya bertanya pada diri sendiri, 'Apakah saya benar-benar perlu melakukan ini?'" kata Maassen.
Hoke mengatakan bahwa dana yang digalang Maassen akan digunakan untuk mengembangkan obat yang diharapkan dapat meregenerasi saraf secara efektif, setara dengan manfaat olahraga bagi pasien neuropati.
Maassen, 59 tahun, mengatakan bahwa ini akan menjadi perjalanan bersepeda lintas negaranya yang terakhir, namun ia akan mencari cara lain untuk mendukung penelitian neuropati. Ia telah berjanji kepada istrinya, Janet, untuk meluangkan lebih banyak waktu bagi sang istri dan kucing mereka, Queenie.
"Bukan berarti saya akan berhenti bersepeda," ujar Maassen.











Leave a Reply