Rusak dan kering, lahan gambut Indonesia terbakar hebat

Selama berminggu-minggu, sejumlah wilayah di Kalimantan tampak seperti kawasan pasca-kiamat; warga yang mengenakan masker harus bergelut dengan kabut asap berbau busuk dan berwarna merah kecokelatan akibat kebakaran lahan gambut yang melahap area di dekat permukiman dan lahan pertanian.

Kebakaran lahan gambut—yang merambat perlahan, sebagian besar di bawah permukaan tanah, dan terkadang berlangsung selama berbulan-bulan—menjadi penyebab utama kabut asap musim kemarau yang tahun ini telah mencemari udara hingga ke Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Apa itu lahan gambut? –

Lahan gambut terbentuk dari materi organik yang tidak terurai sepenuhnya dalam kondisi tergenang air dan telah mengendap selama ribuan tahun menjadi lapisan menyerupai tanah.

Lahan gambut yang sehat menjadi habitat bagi beragam tanaman dan pepohonan—seperti pala dan durian—serta berbagai satwa, termasuk spesies yang terancam punah seperti orangutan, macan dahan, harimau Sumatra, beruang madu, dan tapir.

Sifatnya yang berpori dan mampu menyerap air menjadikan lahan gambut sangat penting untuk pengendalian banjir.

Meskipun hanya mencakup sekitar tiga persen dari total daratan dunia, lahan gambut menyimpan sekitar sepertiga dari cadangan karbon tanah dunia—jumlah yang dua kali lipat lebih besar dibandingkan karbon yang tersimpan di hutan.

Indonesia memiliki proporsi lahan gambut tropis terbesar di dunia, yakni sekitar sepertiga dari total keseluruhan secara global.

  • Mengapa lahan ini terbakar? –

Menurut LSM Pantau Gambut, dari perkiraan 24,2 juta hektare (93.400 mil persegi) lahan gambut di Indonesia, sebanyak 16,4 juta hektare telah mengalami degradasi dan rentan terhadap kebakaran.

Penyebab utamanya terutama adalah perkebunan skala industri untuk kayu, pulp dan kertas, padi, serta kelapa sawit—komoditas yang menjadikan Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia dengan selisih yang sangat jauh.

Untuk menggarap lahan gambut, air dikeringkan melalui jaringan kanal yang di Indonesia membentang sepanjang sekitar 285.000 kilometer (177.000 mil)—menurut penelitian Pantau Gambut—atau setara dengan tujuh kali keliling Bumi.

Air mengalir ke sungai atau laut, sehingga lahan gambut yang mengering menjadi rentan terbakar, terutama pada tahun-tahun dengan fenomena El Niño kuat yang dapat mendatangkan kekeringan parah di Indonesia.

Kebakaran lahan gambut sering kali tidak terlihat secara kasatmata, kecuali dari asap berbau menyengat yang ditimbulkannya dan panas yang terasa di bawah pijakan kaki.

Lapisan karbon yang tebal dapat terus membara dalam bentuk “kebakaran zombi” selama berminggu-minggu dan sulit untuk dipadamkan.

Apa saja dampaknya?

Meskipun kurang dari sepertiga kebakaran hutan di Indonesia terjadi di lahan gambut, kebakaran di area tersebut menghasilkan sebagian besar kabut asap, menurut penelitian Greenpeace.

Kabut asap beracun ini mengandung zat-zat berbahaya—termasuk formaldehida, hidrogen sianida, dan amonia—serta partikel PM2.5 yang ukurannya cukup kecil untuk menembus paru-paru atau aliran darah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengaitkan paparan PM2.5 dengan peningkatan risiko penyakit dan kematian.

Indonesia dan Malaysia telah meliburkan ratusan sekolah akibat kabut asap, dan menurut Kementerian Kesehatan, lebih dari 170.000 orang di Indonesia membutuhkan perawatan medis karena infeksi saluran pernapasan akut selama bulan Agustus dan September.

Banyak orang lainnya juga jatuh sakit di Malaysia dan Singapura.

Kebakaran lahan gambut juga merusak habitat hewan, sehingga semakin mengancam kelangsungan hidup spesies yang sudah terancam punah, seperti orangutan dan badak Sumatra.

Bagaimana dengan gas rumah kaca?

Menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service, hingga 6 Oktober, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah melepaskan 140,5 megaton karbon yang memicu pemanasan global—angka yang mencakup sekitar 13 persen dari total emisi global tahun ini.

Angka tersebut merupakan tingkat emisi tertinggi akibat kebakaran di Indonesia sejak tahun 2019, yang juga merupakan tahun terjadinya fenomena El Niño yang kuat.

Indonesia menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar dari jaringan listrik berbahan bakar batu bara, dan berupaya mengurangi emisi tersebut—antara lain—dengan mengandalkan hutan, lahan gambut, serta ekosistem lahan lainnya untuk menyerap karbon dalam jumlah yang lebih besar daripada yang dilepaskannya.

  • Apa langkah yang sedang diambil? –

Para aktivis dan pakar menyatakan bahwa izin konsesi untuk kegiatan ekstraktif di lahan gambut harus dicabut, dan lahan gambut perlu dibasahi kembali serta ditanami dengan spesies tanaman asli setempat.

Menurut mereka, saluran-saluran air harus disekat.

Indonesia saat ini memberlakukan moratorium (penangguhan sementara) pemberian izin baru untuk pembukaan lahan seluas 66 juta hektare yang ditetapkan sebagai hutan primer dan lahan gambut.

Dalam sebuah pernyataan tahun lalu, pemerintah menyebutkan telah membasahi kembali 4,16 juta hektare lahan gambut, membangun 45.000 sekat kanal, serta melakukan penanaman kembali berbagai spesies tanaman asli.

Namun, terdapat keraguan mengenai sebagian dari upaya tersebut.

“Saat ini, beberapa kesatuan hidrologis gambut yang telah menjadi sasaran upaya restorasi besar-besaran… justru mengalami kebakaran dan mencatat jumlah titik panas tertinggi,” ujar juru kampanye hutan Greenpeace, Belgis Habiba, kepada AFP.

Bulan lalu, pemerintah mengumumkan pembentukan badan baru untuk pengelolaan lahan gambut dan mangrove nasional guna menggantikan badan sebelumnya yang masa tugasnya berakhir pada tahun 2024.

Cakupan tugas dan sumber daya badan tersebut masih dalam tahap penyusunan, namun muncul kekhawatiran karena namanya tidak mencantumkan kata restorasi maupun perlindungan.

“Apakah istilah ‘pengelolaan’ dalam konteks ini menjadi dalih bagi negara untuk memberikan konsesi baru di lahan gambut?” tanya Belgis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *