Mengonsumsi Makanan Ini Membantu Anda Tetap Awet Muda, Kata Pakar ‘Blue Zones’—dan Itu Bukan Protein

makanan karbo

Kita yang memiliki kerabat dengan usia sangat panjang mungkin merasa agak heran atau bertentangan pemikiran melihat tren kegemaran mengonsumsi protein saat ini. Nenek buyut saya, yang hidup hingga usia 101 tahun, membesarkan belasan anak di masa Depresi Besar; beliau mustahil bisa memberi makan seluruh keluarganya yang besar itu hanya dengan 100 gram protein hewani, bahkan seandainya pola makan Italia asalnya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang lumrah.

Akhir pekan ini di Instagram, pencetus konsep Blue Zones, Dan Buettner, melontarkan gagasan yang patut direnungkan: “Apakah orang Amerika terlalu terobsesi dengan protein? Jawabannya adalah ya.”

Buettner melanjutkan, “Jika kita melihat orang-orang dengan usia terpanjang di dunia—mereka yang tinggal di wilayah Blue Zones—pola makan mereka tergolong rendah protein.”

Sebaliknya, Buettner memaparkan, “Enam puluh lima persen dari total asupan kalori mereka berasal dari karbohidrat kompleks. Jadi, hal ini sangat jelas: di lima wilayah berbeda di dunia yang penduduknya hidup 10 tahun lebih lama dibandingkan kita, mereka sebagian besar mengonsumsi karbohidrat kompleks.”

Apa itu karbohidrat kompleks?

Menurut American Heart Association, karbohidrat kompleks “dicerna lebih lambat dan melepaskan glukosa ke dalam aliran darah secara lebih perlahan.” Organisasi tersebut menyebutkan contoh-contoh seperti produk biji-bijian utuh, sayuran bertepung (termasuk ubi jalar), kacang-kacangan (legum), serta buah-buahan.

Penelitian terkini juga menyoroti dampak karbohidrat kompleks terhadap kesehatan usus. Dalam jurnal Nutrients tahun 2018, tercatat bahwa “tantangan utama di masyarakat yang makmur adalah meningkatnya gangguan terkait kesehatan usus dan metabolisme.” Para peneliti menyatakan bahwa konsumsi berlebihan “makanan tidak sehat yang tinggi energi, lemak, dan gula, namun rendah serat pangan, merupakan faktor lingkungan utama penyebab kondisi ini, yang dapat memicu peradangan lokal maupun sistemik.” Mereka menambahkan bahwa serat pangan diperlukan “untuk menjaga kelangsungan hidup dan keragaman mikrobiota serta produksi asam lemak rantai pendek di dalam usus.”

Dalam penelitian tersebut, tim menemukan bahwa saat serat nabati dimetabolisme di usus, serat ini menghasilkan asam lemak rantai pendek yang “memainkan peran kunci tidak hanya bagi kesehatan dan fungsi usus besar,” tetapi juga bagi seluruh tubuh. Hal ini sebagian disebabkan oleh nutrisi yang penyerapannya dibantu oleh serat tersebut, serta efek anti-inflamasinya. (Beberapa penelitian, seperti studi tahun 2024, telah mengaitkan rendahnya kadar asam lemak tersebut di usus dengan meningkatnya diagnosis kanker usus besar pada orang dewasa muda dalam beberapa tahun terakhir.)

Jadi, Buettner tampaknya menyarankan pola makan yang terdiri dari sepertiga protein dan dua pertiga bahan nabati sebagai salah satu pendekatan untuk menjaga kesehatan. Terlebih lagi, banyak bahan nabati—seperti oat, quinoa, dan kacang-kacangan—juga merupakan sumber protein yang baik. Nutrisiilah otot Anda demi kekuatan dan stabilitas hingga masa tua, namun jangan lupa untuk menutrisi usus Anda juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *