Beberapa kebiasaan dibentuk oleh faktor geografis dan sejarah sama besarnya dengan pilihan pribadi, dan merokok adalah contoh nyata hal tersebut. Meskipun penjualan rokok secara global telah menunjukkan tren penurunan selama beberapa dekade, laju penurunan tersebut tidak terjadi secara merata. Sejumlah negara—yang sebagian besar terkonsentrasi di Eropa Timur dan wilayah Balkan—terus mencatatkan angka konsumsi rokok yang jauh melampaui negara-negara lain di dunia; hal ini didorong oleh harga yang murah, kebiasaan sosial yang mengakar kuat, serta industri tembakau yang cengkeramannya tidak pernah benar-benar memudar.
Meninjau jumlah rokok yang terjual atau dikonsumsi per orang setiap tahun—alih-alih sekadar melihat persentase jumlah perokok—memberikan gambaran yang sedikit berbeda dibandingkan peringkat "tingkat prevalensi merokok" yang umum digunakan. Pendekatan ini mencerminkan seberapa intens konsumsi tembakau oleh para perokok dalam keseharian mereka. Berdasarkan data perbandingan paling rinci yang tersedia—yang dipantau dan dikutip oleh berbagai pihak, termasuk Guinness World Records—terdapat lima negara yang menonjol secara signifikan dibandingkan negara-negara lainnya.
Serbia
Serbia menempati posisi teratas dalam hampir semua peringkat kredibel mengenai konsumsi rokok per kapita. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Guinness World Records, konsumsi rokok per kapita di Serbia tercatat sebesar 9,1 batang, angka tertinggi dibandingkan negara-negara lain yang disurvei. Analisis terpisah dari World Lung Foundation dan American Cancer Society, yang dikutip oleh kelompok antirokok ASH, menemukan bahwa tingkat konsumsi tertinggi berada di Serbia, yakni mencapai 2.861 batang rokok per orang setiap tahunnya.
Besarnya skala industri tembakau di negara tersebut turut memperkuat data-data tersebut. Data Tobacco Atlas menunjukkan bahwa sekitar 43.773.000.000 batang rokok diproduksi di Serbia pada tahun 2024—sebuah volume yang sangat besar bagi negara dengan populasi kurang dari tujuh juta jiwa. Para peneliti kesehatan di kawasan tersebut juga berulang kali menyoroti Serbia sebagai wilayah yang bermasalah, dengan mencatat bahwa tingkat penggunaan tembakau di kawasan Eropa WHO tertinggi terjadi di Serbia, Makedonia Utara, Bulgaria, dan Montenegro; semuanya mencatatkan prevalensi di atas 30% pada penduduk berusia di atas 14 tahun. Harga yang terjangkau dibandingkan dengan tingkat pendapatan, lemahnya penegakan aturan pemasaran tembakau, serta kaitan budaya yang erat antara kebiasaan merokok dan kehidupan sosial sehari-hari menjadi faktor-faktor yang menjelaskan mengapa Serbia terus menempati posisi puncak dalam daftar-daftar tersebut.
Belarus
Belarus menempati peringkat kedua dalam daftar Guinness World Records dengan angka konsumsi per kapita sebesar 8,3, hanya berada di bawah Serbia. Negara ini memiliki banyak karakteristik struktural yang serupa dengan negara-negara lain di bekas Blok Timur: harga rokok yang relatif murah, pasar tembakau yang dipengaruhi oleh negara, serta kebiasaan merokok yang telah dianggap lumrah secara turun-temurun alih-alih dicegah secara aktif.
Selama ini, kampanye kesehatan masyarakat terkait bahaya merokok di Belarus tidak seagresif di Eropa Barat, dan kebijakan pengendalian tembakau pun tertinggal dibandingkan dengan aturan pelarangan iklan serta ketentuan kemasan polos yang diterapkan di Uni Eropa. Kondisi ini—ditambah dengan fakta bahwa merokok masih dianggap sebagai hal yang wajar dalam berbagai situasi sosial—menyebabkan tingkat konsumsi per kapita tetap tinggi dibandingkan dengan sebagian besar wilayah Eropa lainnya. Belarus menjadi pengingat yang berguna bahwa peringkat ini bukan sekadar mencerminkan budaya unik suatu negara, melainkan pola yang lebih luas di seluruh kawasan tersebut.
Rusia
Rusia menempati peringkat ketiga, dengan data Guinness World Records mencatat konsumsi rokok per kapita sebesar 7,1 batang. Besarnya populasi negara ini menjadikan angka tersebut sangat signifikan. Angka konsumsi per orang yang tergolong moderat sekalipun tetap menghasilkan volume penjualan rokok secara keseluruhan yang sangat besar; penelitian terpisah yang dihimpun oleh ASH menunjukkan posisi Rusia tidak jauh tertinggal dari Serbia, dengan angka 2.786 batang rokok per orang setiap tahunnya.
Dampak ekonomi dan kesehatan akibat tingkat konsumsi ini sangatlah besar. Estimasi lama yang banyak dikutip menyebutkan bahwa biaya yang ditimbulkan akibat kebiasaan merokok di Rusia mencakup hilangnya sekitar 400.000 nyawa dan kerugian finansial sebesar 48,1 miliar dolar setiap tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas Rusia secara berkala mengusulkan pembatasan yang lebih ketat terhadap iklan rokok dan aktivitas merokok di tempat umum, mengikuti pola regulasi yang sama dengan yang berhasil menurunkan tingkat konsumsi di Eropa Barat beberapa dekade silam. Namun, apakah langkah-langkah tersebut akan benar-benar membawa perubahan berarti di pasar sebesar ini masih menjadi pertanyaan terbuka.
Lebanon
Lebanon menempati peringkat keempat bersama negara lain dalam daftar Guinness World Records, dengan angka konsumsi per kapita sebesar 6,5. Hal ini selaras dengan pola regional yang lebih luas, mengingat Lebanon secara konsisten termasuk di antara negara-negara dengan tingkat konsumsi rokok tertinggi di Timur Tengah. Data terpisah yang bersumber dari WHO mencatat tingkat prevalensi merokok secara keseluruhan di negara tersebut mencapai hampir 38,20 persen dari populasi, dan perbandingan antarnegara terkini masih menempatkan Lebanon sebagai negara dengan tingkat tertinggi di kawasan tersebut.
Harga rokok di Lebanon sudah lama tergolong murah dibandingkan dengan pendapatan rumah tangga, dan kebiasaan merokok telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial sehari-hari, mulai dari kafe hingga acara kumpul keluarga. Meskipun aturan larangan merokok di tempat umum telah ditetapkan secara resmi, penegakannya masih belum merata, terutama di negara yang selama satu dekade terakhir lebih banyak berkutat dengan ketidakstabilan ekonomi dan politik. Analisis regional terkini terus menunjukkan bahwa Yordania dan Lebanon menempati posisi teratas dalam hal prevalensi merokok di Timur Tengah; fakta ini memperkuat kesimpulan bahwa posisi Lebanon di jajaran atas peringkat konsumsi global bukanlah sekadar anomali statistik sesaat.
Moldova
Melengkapi posisi lima besar, Moldova memiliki tingkat konsumsi per kapita sebesar 6,5—angka yang sama dengan Lebanon—berdasarkan kumpulan data Guinness World Records yang sama. Sebagai salah satu negara termiskin di Eropa dalam hal PDB per kapita, Moldova kesulitan menerapkan pajak tembakau tinggi yang terbukti mampu menekan tingkat konsumsi di wilayah Eropa lainnya; hal ini dikarenakan kenaikan harga yang tajam cenderung sangat membebani anggaran rumah tangga yang kondisinya sudah terbatas.
Posisi geografis dan budaya Moldova, yang terletak di antara Rumania dan Ukraina, juga membuat negara ini mewarisi berbagai kebiasaan merokok yang umum dijumpai di wilayah bekas Uni Soviet. Perdagangan rokok lintas batas, baik yang legal maupun informal, turut menjaga harga tetap kompetitif dan ketersediaan barang tetap tinggi. Meskipun data per kapita yang komprehensif dan spesifik mengenai Moldova lebih sulit diperoleh dibandingkan data untuk negara-negara yang lebih besar, posisi negara ini yang secara konsisten berada di papan atas peringkat tersebut mengindikasikan bahwa pola ini merupakan tren yang bertahan lama, bukan sekadar fluktuasi sesaat.











Leave a Reply