Tren wisata solo bagi perempuan kini semakin populer, namun kenyataan di lapangan di kota-kota tertentu belum mengimbangi tren tersebut. Saat ini, jutaan perempuan memesan tiket sekali jalan untuk bepergian seorang diri demi mengejar kemandirian dan pengalaman baru. Akan tetapi, beberapa destinasi menyimpan risiko yang jauh melampaui sekadar peringatan umum soal pencopetan; mengetahui destinasi mana yang memerlukan kewaspadaan ekstra dapat menjadi penentu apakah perjalanan Anda akan menjadi pengalaman yang berkesan atau justru sangat menakutkan.
Caracas, Venezuela
Caracas berulang kali menempati peringkat teratas dalam indeks risiko global sebagai salah satu kota paling berbahaya di dunia bagi wisatawan, terlebih lagi bagi perempuan yang bepergian sendirian. Analisis Forbes Advisor terhadap enam puluh kota besar memberikan skor sempurna 100 untuk Caracas, menempatkannya di urutan teratas daftar destinasi berisiko. Runtuhnya perekonomian kota ini telah memicu lonjakan kasus perampokan bersenjata, penculikan dengan tuntutan tebusan, dan kejahatan jalanan dengan kekerasan yang secara tidak proporsional menyasar orang-orang yang dianggap rentan atau kaya.
Bagi perempuan yang bepergian sendirian, bahaya semakin bertambah akibat kinerja kepolisian yang tidak dapat diandalkan serta krisis mata uang yang mendorong peningkatan tajam kejahatan akibat desakan ekonomi. Pemandu wisata setempat biasanya mewajibkan penggunaan transportasi pribadi untuk bepergian pada malam hari, dan bahkan berjalan-jalan di siang hari di kawasan yang tidak dikenal pun mengandung risiko nyata. Sebagian besar pakar keselamatan justru menyarankan untuk tidak bepergian sendirian sama sekali di sini, dan lebih merekomendasikan penggunaan tur terorganisasi yang menyediakan pengemudi tepercaya.
Karachi, Pakistan
Kota terbesar di Pakistan menempati peringkat tepat di bawah Caracas dalam peringkat risiko Forbes Advisor yang sama; Karachi mencatatkan skor 93,12 dari 100, yang mencerminkan kekhawatiran serius terkait kriminalitas, keamanan pribadi, dan infrastruktur kesehatan. Tindak kejahatan jalanan, perampokan yang menargetkan korban tertentu, serta kerusuhan politik yang sesekali terjadi membuat navigasi di kota metropolitan yang luas ini sangat sulit bagi siapa pun yang tidak memiliki pengetahuan lokal.
Perempuan yang bepergian tanpa pendamping menghadapi risiko tambahan akibat norma sosial yang konservatif serta terbatasnya infrastruktur publik yang dirancang dengan mempertimbangkan keselamatan perempuan. Layanan transportasi umum tidak dapat diandalkan, dan pelecehan di pasar yang ramai serta terminal bus merupakan keluhan yang sering disampaikan oleh pengunjung perempuan. Mereka yang berkunjung hampir selalu disarankan untuk menggunakan jasa sopir pribadi dan menghindari bepergian di dalam kota setelah hari gelap.
Johannesburg, Afrika Selatan
Reputasi Johannesburg sebagai kota yang berbahaya bagi perempuan yang bepergian sendiri bukanlah sekadar kabar angin yang dilebih-lebihkan; hal ini didukung oleh peringatan spesifik dan konsisten dari pihak pemantau keselamatan perjalanan. Berdasarkan penilaian terkini, Johannesburg menghadirkan risiko keselamatan yang signifikan bagi wisatawan perempuan—termasuk tingginya angka kejahatan dengan kekerasan, perampokan bersenjata, dan penculikan—sehingga diperlukan langkah-langkah kewaspadaan yang ketat. Para pengunjung pun diberi peringatan tegas bahwa perempuan disarankan untuk tidak bepergian ke kota ini seorang diri.
Kawasan tertentu memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi; terdapat imbauan untuk menghindari berjalan kaki di area CBD, Hillbrow, Berea, dan Joubert Park. Insiden pencurian dengan modus memecahkan kaca kendaraan saat berhenti di lampu lalu lintas cukup sering terjadi hingga perlu secara khusus disebutkan dalam pengarahan keselamatan; bahkan layanan transportasi berbasis aplikasi pun sebaiknya dipesan terlebih dahulu alih-alih dihentikan langsung di jalan. Angkutan umum berupa minibus (jeepney/van) memiliki risiko tersendiri karena sering terlibat dalam kecelakaan fatal, kerap tidak laik jalan, dan tidak disarankan bagi wisatawan.
Manila, Filipina
Dalam beberapa tahun terakhir, Manila mengalami perubahan situasi yang mengkhawatirkan, beralih dari kondisi yang sempat membaik menjadi kembali menimbulkan kekhawatiran. Sebuah laporan tahun 2024 mencatat bahwa Numbeo Crime Index menempatkan Manila sebagai kota paling berbahaya di Asia Tenggara; hal ini mencerminkan peningkatan signifikan dalam tingkat kriminalitas serta meningkatnya rasa takut di kalangan warga. Skor indeks kriminalitas kota tersebut melonjak hingga ke tingkat yang mencerminkan kekhawatiran luas terkait pencurian, penyerangan, dan perampokan bersenjata.
Persepsi publik mengenai keamanan juga merosot tajam, terutama setelah matahari terbenam, dengan indeks keamanan yang turun ke angka mengkhawatirkan di 29,96. Penurunan kondisi ini terjadi setelah adanya perbaikan selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinan kota sebelumnya, yang mencakup perluasan cakupan CCTV dan peningkatan kehadiran polisi. Bagi perempuan yang bepergian sendiri, langkah praktis yang disarankan adalah menghindari berjalan kaki setelah hari gelap di sebagian besar wilayah serta menggunakan layanan transportasi resmi alih-alih taksi informal.
Rio de Janeiro, Brasil
Pemandangan Rio yang indah bak kartu pos menyembunyikan profil risiko yang sebenarnya cukup tinggi, terutama bagi perempuan yang bepergian sendirian di kota ini. Data Numbeo mencatat Indeks Kriminalitas Rio de Janeiro sebesar 75,33 dan Indeks Keamanan hanya 24,67; angka-angka ini mencerminkan kekhawatiran yang sangat tinggi di kalangan penduduk terkait perampokan dan penjambretan. Warga yang telah lama tinggal di sana menyebutkan bahwa ada kawasan yang lebih aman dibandingkan kawasan lainnya—terutama wilayah kota yang lebih makmur di bagian selatan—namun risiko perampokan bersenjata tetap tidak bisa dikesampingkan sepenuhnya.
Selain perampokan jalanan, kekerasan berbasis gender juga menjadi masalah yang tercatat nyata. Staf keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertugas di kota ini menyoroti kekhawatiran utama mereka, yang meliputi risiko menjadi korban kejahatan dengan kekerasan (seperti perampokan) dan konflik bersenjata yang sering terjadi, serta meningkatnya risiko kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender. Kawasan *favela* khususnya memerlukan pemandu lokal dan kunjungan yang hanya dilakukan pada siang hari; bahkan di kawasan permukiman kelas atas sekalipun, kewaspadaan tetap diperlukan terkait penggunaan perhiasan atau ponsel yang mencolok.
New Delhi, India
Ibu kota India memiliki reputasi yang kompleks—perpaduan antara risiko nyata dan anggapan yang agak berlebihan—meskipun data dasarnya patut disikapi dengan serius. Pola regional menunjukkan bahwa wilayah seperti Haryana, Rajasthan, dan Uttar Pradesh mencatat tingkat kekerasan tertinggi terhadap perempuan, dan Delhi termasuk dalam zona yang menjadi perhatian tersebut. Pelecehan—yang secara lokal sering disebut sebagai *eve-teasing* (gangguan atau godaan seksual di tempat umum)—masih kerap terjadi; laporan menyebutkan bahwa bentuk-bentuk pelecehan seperti sentuhan yang tidak diinginkan dan tatapan terus-menerus sering terjadi di transportasi umum, pasar, atau jalanan yang ramai, khususnya di New Delhi atau Mumbai.
Para ekspatriat yang telah lama tinggal dan sering bepergian sendirian kerap memberikan gambaran yang lebih bernuansa dibandingkan apa yang ditampilkan oleh berita utama, meskipun seorang pelancong berpengalaman yang pernah tinggal di Delhi menyebutnya sebagai kota dengan reputasi kriminalitas terburuk di negara tersebut. Langkah-langkah pencegahan praktis sangatlah penting di sini: tetap berada di kawasan permukiman kelas atas, menggunakan taksi resmi, menggunakan gerbong kereta khusus perempuan, serta menghindari bepergian sendirian setelah hari gelap adalah saran standar yang diberikan kepada hampir setiap perempuan yang berkunjung.
Lagos, Nigeria
Lagos kerap menempati peringkat atas dalam indeks risiko global, dan pemeringkatan kota versi Forbes Advisor menempatkannya secara tegas di antara destinasi paling berbahaya di dunia—dengan skor 91,54, Lagos berada tepat di belakang Karachi dan Yangon. Kota terbesar di Nigeria ini memadukan tekanan kepadatan penduduk dengan ketimpangan pendapatan yang signifikan; kombinasi yang secara historis memicu tindak kriminal, baik yang bersifat oportunistik maupun terorganisir.
Penculikan dengan tuntutan tebusan, perampokan bersenjata, dan kejahatan terkait lalu lintas adalah kekhawatiran yang paling sering dikeluhkan oleh para pengunjung. Perempuan yang bepergian seorang diri umumnya disarankan untuk menghindari transportasi umum—terutama pada malam hari—serta mengatur akomodasi dan transportasi penjemputan melalui kontak lokal tepercaya alih-alih mengaturnya secara mendadak saat tiba. Tingkat risiko tidaklah seragam di seluruh penjuru kota; distribusinya yang tidak merata menjadikan pengetahuan lokal sebagai hal yang mutlak diperlukan, bukan sekadar pilihan.
Port Moresby, Papua Nugini
Tidak banyak ibu kota yang memberikan peringatan lebih tegas bagi perempuan dibandingkan Port Moresby. Panduan resmi secara lugas menyatakan bahwa perempuan sebaiknya tidak bepergian sendirian ke Port Moresby, mengingat adanya kasus kekerasan seksual yang menimpa wisatawan perempuan. Peringatan perjalanan dari pemerintah Kanada bahkan lebih spesifik, menyebutkan bahwa kekerasan seksual—termasuk pemerkosaan berkelompok—sering terjadi dan warga asing pun kerap menjadi sasaran.
Pejabat Australia menyampaikan kekhawatiran serupa, dengan menyatakan secara jelas bahwa perempuan menghadapi risiko lebih tinggi mengalami kekerasan seksual dan pencurian di seluruh wilayah negara tersebut. Keterbatasan sumber daya kepolisian serta gangguan keamanan sipil yang sesekali terjadi menambah kerumitan situasi; bahkan wisatawan yang telah melakukan persiapan matang pun sangat disarankan untuk tidak berjalan kaki sendirian setelah hari gelap. Bagi sebagian besar perempuan yang bepergian sendiri, destinasi ini sebaiknya dikunjungi melalui paket wisata terorganisasi yang dilengkapi dengan pengaturan keamanan khusus.
Mexico City, Mexico
Mexico City berada dalam kategori risiko yang berbeda dibandingkan tempat-tempat seperti Caracas atau Karachi, namun kekhawatiran bagi perempuan yang bepergian sendiri tetap nyata dan spesifik. Penelitian yang lebih luas mengenai perjalanan perempuan seorang diri secara konsisten menyoroti Mexico City, mencatat bahwa kota ini memiliki peringkat rendah dalam hal keamanan jalanan dan tingkat kekerasan—sebuah pola yang paling terlihat jelas di kawasan pinggiran ibu kota. Perbandingan data Numbeo menempatkan indeks kriminalitas kota ini pada tingkat yang, meskipun lebih rendah daripada Rio de Janeiro, tetap menuntut kewaspadaan yang serius.
Kekerasan terkait kartel cenderung terkonsentrasi jauh dari pusat-pusat wisata, namun kejahatan ringan, insiden pencampuran zat berbahaya ke dalam minuman, dan penipuan taksi tak berizin tetap menjadi masalah yang terus terjadi bagi perempuan yang bepergian sendirian di kota ini. Saran umum dari para pelancong berpengalaman adalah menggunakan layanan transportasi daring (ride-sharing) secara eksklusif, menghindari memamerkan barang berharga saat berada di kereta bawah tanah (metro), serta tetap berada di kawasan ramai seperti Roma Norte atau Polanco setelah matahari terbenam. Aktivitas wisata pada siang hari di kawasan pusat kota umumnya dapat dilakukan dengan aman asalkan menerapkan langkah-langkah kewaspadaan standar di perkotaan.
Nairobi, Kenya
Nairobi mungkin tidak selalu masuk dalam daftar kota teraman versi umum, namun penduduk maupun pengunjung yang tinggal dalam waktu lama secara konsisten menganggapnya sebagai salah satu kota yang cukup menantang untuk dijelajahi seorang diri. Seorang warga Rio yang pernah tinggal di sana berkomentar bahwa para ahli menilai Nairobi sebagai kota yang tingkat kekerasannya lebih tinggi dibandingkan Rio, bahkan termasuk dalam jajaran pusat perkotaan paling rawan kekerasan di dunia. Pandangan tersebut sejalan dengan data kriminalitas yang menunjukkan adanya kekhawatiran terus-menerus terkait perampokan bersenjata, pembajakan mobil, dan penjambretan di jalanan, khususnya di dalam dan sekitar kawasan pusat bisnis setelah hari gelap.
Wisatawan perempuan yang bepergian sendiri biasanya disarankan untuk tidak berjalan kaki di malam hari—bahkan untuk jarak dekat antara tempat-tempat yang populer—serta lebih mengandalkan transportasi yang dipesan sebelumnya daripada menyetop taksi di jalan. Kawasan permukiman informal tertentu memiliki tingkat risiko yang jauh lebih tinggi dan umumnya dihindari sama sekali oleh wisatawan. Kunjungan pada siang hari ke pasar, museum, dan pusat kota cenderung berjalan lancar tanpa insiden, asalkan wisatawan tetap waspada dan tidak memamerkan barang-barang berharga.
Tips Praktis bagi Wisatawan Perempuan yang Bepergian Sendiri
Di setiap kota dalam daftar ini, terdapat sejumlah pola yang berulang. Bepergian dengan berjalan kaki pada malam hari secara konsisten disebut sebagai faktor risiko terbesar—jauh lebih berisiko dibandingkan kegiatan wisata pada siang hari di kawasan turis. Penggunaan transportasi yang telah diatur sebelumnya—baik itu sopir hotel maupun layanan transportasi daring terverifikasi yang dipesan lebih awal—berulang kali terbukti menjadi langkah perlindungan paling efektif terhadap berbagai ancaman, mulai dari perampokan hingga kekerasan fisik.
Perlu dicatat pula bahwa tingkat risiko jarang tersebar merata di seluruh wilayah kota. Sebagai contoh, kawasan yang lebih makmur atau berorientasi pada pariwisata di Rio, Johannesburg, dan Mexico City memiliki tingkat risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan kawasan di pinggiran kota; hal ini menunjukkan bahwa melakukan riset mengenai lokasi tujuan sebelum berangkat sama pentingnya dengan menyiapkan perlengkapan perjalanan. Informasi ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menghalangi siapa pun bepergian ke tempat-tempat tersebut—mengingat jutaan perempuan berkunjung dengan aman setiap tahunnya—namun bepergian dengan berbekal informasi yang tepat, alih-alih sekadar mengandalkan optimisme, dapat memberikan perbedaan yang sangat berarti.
Leave a Reply